TP2GD Gelar Seminar Nasional Historis Perjuangan Sultan Baabullah

0
57

TERNATE, PilarMalut.id – Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) yang merupakan gabungan dari Keluarga Malamo Ternate dengan Pemerintah Kota Ternate, menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Kajian Historis Perjuangan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional”.

Seminar yang dilaksanakan di Pondopo Kedaton Kesultanan Ternate Kamis (15/08/2019), menghadirkan tiga narasumber di antaranya, Kasubdit Gelar Kepahlawanan Nasional Kementerian Sosial (Kemensos) Afni M.Hum, Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Susanto Zuhdi serta Sejarawan Universitas Khairun Ternate, Irfan Ahmad.

Kepala Sub Bagian (Kasubdit) Gelar Pahlawan Nasional Kemensos RI, Afni menjelaskan, Undang-Undang (UU) tahun 20 Tahun 2009 terkait tanda jasa dan kehormatan, terdapat beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi salah satunya sebagai warga negara Indonesia (WNI), berjuang melawan penjajah, gugur demi membela bangsa dan negara.

“Intinya, semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan. Tapi dari definisi itu, diutamakan WNI yang melakukan perjuangan,” jelasnya.

Ia menuturkan, untuk mendorong pengusulan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional di tingkat Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial, aspek nilai sangatlah ditekankan. Kendati begitu, harus mengikuti tahap penyaringan.

“Karena selama ini pengusulan kepahlawanan itu berlangsung berulang kali. Saya berharap untuk Sultan Baabullah ini satu kali saja,” ujarnya.

Sementara itu, Susanto Zuhdi mengatakan, pahlawan merupakan ciptaan, Sebab jika tidak dibutuhkan tentu tidak ada pahlawan. Namun yang patut diketahui, pahlawan adalah nilai yang hidup.

“Sekarang (nilainya) sudah hidup. Di mana?, ya diabadikan pada nama bandara, korem, jalan. Artinya masih hidup. Masalahnya kita lupa sejarah. Jadi harus dihidupkan kembali kepahlawanan itu,” imbuhnya.

Kesempatan yang sama, Irfan Ahmad mengambarkan peristiwa pembunuhan Sultan Khairun Jamil, ayah Sultan Baabullah di Benteng Kastela Ternate kala itu. “Dalam naskah yang terekam, ketika ayahnya dibunuh, tidak ada insiden pembantaian di situ,” tandasnya.

Setelah Portugis menyerah, kata Irfan, ada konsep jihad yang diusung Baabullah. Namun dalam bentuk diplomasi. “Jadi Baabullah tidak tercatat berlaku kasar, malah sikap toleransi yang ditunjukkan,” tuturnya. (Ay).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here