Romantisme Kapita Lau Fafanlap di Raja Ampat

0
647

(Titaah dan Pesan Moral dari Tidore)

Oleh

Bustamin Wahid
Penulis Lepas dan Warga Sorong Papua Barat

Kehadiran Juni diperingati hari lahirnya pancasila (!) mungkin kita tidak begitu serius menulis dan mengulangi sila-sila dalam narasi, tapi ada nilai-nilai kepancasialaan yang telah dipesankan ulasan cerita seorang Bapak Kaidat Bin Hasan Soltif, keturunan kapita lau Fafanlap dari Misol Raja Ampat yang sedikit mengkisahkan tentang daya juang Papua kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Rahasia sejarah menjadi ingatan, kini kita kembali merenung dan riset-humanis untuk menjaga jarak antara keadan dan pengalaman dahulu. Hal penting lain adalah pesan tentang kesadaran yang kian lama hanya dilisankan dan membeku dalam memori dan menjadi beban batin. Oleh karena itu tidak ada alasan lain yang sahih untuk meneruskan cerita-cerita lisan tetang peradaban islam dan kejayaan kerajaan, di bumi Raja Ampat banyak penamaan dan nomenklatur sekian banyak yang tersisa dan saat ini masi menjadi memori sejarah.

Raja Ampat kini dikenali dunia dan dunia berbicara masalah Raja Ampat, tapi kapan waktunya kita berbicara tentang dunia, kita memiliki utang kolektif untuk memenuhi semua itu. Agak sedikit sempit saya ceritakan tentang kedua peradaban besar di Raja Ampat. Tentu bukan barang baru, pasti berjumpa dengan dua suku besar yakni suku Mayaa yang mendiami pulau besar waigeo, dan Mee (Matbat) yang mendiami pulau misol.

Di sana peradaban islam begitu kuat dan mereka mengajari tentang pentingnya toleransi yang luar biasa, karena sebagain berlum beragama (dulu) mendapat penghormatan dan diberikan jabatan-jabatan yang sesungguhnya berbasis pada struktur kuasa islam. Jika kita ditanah bantan Mee pasti berjumpa dengan dua kekuasaan jojau Gamta, jojau waigam, raja lilinta, kapitan lau, Mayor, Sangaji-sangaji, sadaha dan merinu. Saya begitu tak asing mendengar simbol kuasa itu.

Ingatan sejarah kini penting untuk ditegaskan, tentu dengan pertanyaan-pertanyaan hebat untuk membongkar tabir tua, dan memberikan kita satu syarat bahwa kita bukan manusia yang menghuni pulau kecil dan merindukan sebuah perahu untuk siap-siap mengembara. Pertanyaan-pertanyaan besar itu bisa membangun mental untuk jauh lebih memahami tentang memori kesejarahaan kita.

Tak berharap ada satu titik darah dan tafsir sejarah bukan sebagai doktrin semata, namun spirit sejarah ini menjadi kebenaran, Mutahari cukup tegas menyebutkan dalam setiap saat khotbanya tentang sejarah sebagai dasar epistemic (Baca: Epistimologi), hingga kini belum ada kekuatan berupa antitesis dari dasar itu.

Saat berjumpa dengan Aba Kaidat bin Hasan Soltif (ketrunan Kapita Lau Fafanlap Misol), rasanya gagasan penuh dengan spirit dan etos perjuangan tinggi, sebab beliau selalu memulai dengan kekuatan dan lafas syahadat yang tidak lain adalah tauhid dan kebenaraan. Naseha-naseha beliu saya pun mengingat pesan pendek dari seorang filosof ternama Plato tentang syahadat pengetahuan yang ditafsir oleh Leo Rauch.

Bibit pengetahuan dan nalar sejarah harus dijaga kemudian ditiru dalam rung dan nas yang sebagai dasar untuk berbuat (kata Kaidat bin Hasan Soltif). Ada dua pesan mendasar oleh Kaidat bin Hasan Soltif (keturunan Kapitan Lau Fafanlap) pada saat diskusi.

1. Surat Jou Sultan Tidore untuk Kapitan Lau

Saya (Kaidat bin Hasan) masih ingat betul masi berusia remaja, di tahuan 1950-an ada surat dari Jakart, ternyata pengirimnya adalah Jou Sultan Tidore Paduka Zainal Abdin Syah, yang ditujukan kepada kapita lau Fafanlap dan kapita lua Sailolof di Salawati. Melihat surat dari Jou Sulatan Tidore saya bergegas lari menuju rumah dan memberikan kabar ini kepada Ayah, setelah ayah melihat surat itu dan memberikan perintah untuk berikan kepada salah satu seorang kaka saya.
Rasa penasaran untuk mendengar isi berita dari Jou Sultan Tidore, entah mengapa tanpa berkomentar apa-apa kaka saya kemudian mengirim surat itu kepada Jojau Waigama di Waigama, rasa penasaran pun tak memuas hasrat ingin tahu.

Setelah bebarapa tahun kemudian, saya (Kaidat bin Hasan Soltif) berjumpa dengan dengan Kapita Lau Sailolof dengan senang hati kapita lau sailolo sontak menceritakan isi surat dari Jou Sultan Tidore (Paduka Zainal Abdin Syah) ternyata isi surat itu Jou Sultan surakan tentang kebenaran dan kemerdekaan untuk rakyat Papua. Titaah Sulatan untuk surat itu dibcakan kepada rakyat di hari Jumat, dan perintah itu terlaksana dengan baik.

Betapa sedih rasanya nilai-nilai moral dalam titaah Jou Sultan Tidore, sayang rakyat kami di Fafanlap tidak dengar secara utuh dan saksama seperti diharapkan. Pesan kemerdekaan itu telah kami capai dan melawan Netherland/Belanda mati-matian. Dan nota kesepahaman bersama telah kami tandatangani bersama dengan Raja Lilinta, Jojau, Kapita Lau, dengan perwakilan tokoh yang lain sebagai tanda Papua bebas dari genggaman Netherland/Belanda dan bergabung dengan NKRI.

2. Bisikan Tarekat dari Lelaki Tidore

Ada pula cerita hingga kini seorang lelaki misterius dari Tidore, dikisahakan oleh Papa/Ayah saya Hasan Soltif, cerita itu disertakan dengan satu warisan dokumen Khotba dari dalam ejaan Arab.

Lelaki misterius dari Tidore ini dikenal dengan nama Hi. Salahudin bin Talabudin, dia menikah dan hidup di pulau salawati. Beliau memiliki kisah yang luar biasa upaya untuk memperdalam agama dan Al Qur’an beliau selalu menyepi secara sendiri di pulau-pulau kecil, hanya dengan alasan ketenangan untuk proses dzikir dan tafukur menuju pada titik marifatulah (jalan kesempuranaan).

Rasa heran dan takjub dari masyarakat sekitar pun bermuculan dan tak segan-segan membeirkan pelabelan pada dirinya, sekan akan dia (Hi. Salahudin bin Talabudin) adalah orang “gila/tak waras”, anggapan-anggapan itu tak dilerai oleh dia pelan-pelan surut dan tak bermakna.

Kini sosok orang mulia dan luar biasa ini, menjadi seorang ulama dan pendakwa agama besar hingga dikenal di tanah Misol. Orang-orang misol Raja Ampat mengenali dan tahu bahwa makam sosok Hi. Salahudin bin Talabudin yang bertempat di Pulau Mustika (posisi Misol Raja Ampat).

Sungguh… berlaku sabar sosok dari Hi.Salahudin bin Talabudin menirai anggapan itu sebagai bagian dari perjalanan menuju kesempurnaan. Ketebalan hati dan jiwa sebagai loncataan tinggi iman adalah segala-galanya, kini kami setiap saat menjiarahi makamnya.

Di satu kesempatan dia (Hi. Salahudin bin Kaidat), mengirim naska-naska Khotba untuk ayah saya (Hasan Soltif) sebagai rujukan dan digunakan untuk Khotbah Jumat dan hingga kini kami masi menyimpan dengan rapih. Demikian cerita Aba Kaidat bin Hasan Soltif (Keturunan Kapitan Lau Fafanlap).

Mencermati sekian cerita ini dari surat Jou Sultan Tidore dan Hi. Salahudin bin Talabudin mengingatkan kita kepada sosok lelaki perkasan dan pencerah Imam Abdullah Qadih Abdussalam (Tuan Guru) dalam cerita kebebasan dan kemerdekaan bangsa Afrika Selatan dan dijadikan rujukan kebebsan dan kemerdekaan oleh sosok Nelson Mandela.

Muda-mudahan sedikit pesan sejarah ini, mengisi masyarakat dari pengatnya isu dan dialok politik yang sulit kita ukur kabenarannya. Selamat membaca karena kami telah selesaikan tugas kami sebagai penulis.[***]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here