Puluhan Hektar Tanaman Warga Doitia Rusak Tertimbun Tanah

0
64
Tanaman kebun warga Doitia yang rusak tertimbun tanah.

TOBELO,PilarMalut – Fenomena likuifaksi atau tanah bergerak terjadi di desa Doitia kecamatan Loloda Utara, pada Senin (04/02/2019) lalu sekitar pukul 03.00 wit, menyebabkan puluhan hektar tanaman warga rusak terbawah tanah bahkan sebagian hilang tertimbun tanah.

Salah satu warga desa Doitia, Edward Tuyu menjelaskan, akibat likuifaksi terjadi tanaman pala dan kelapa miliknya tertelan tanah. “Saya punya pohon pala 30 pohon dan pohon kelapa hilang tertelan tanah, ” kata Edward Tuyu.

 Selain itu kata dia, tanah bergerak juga menyebabkan tanah di sekitar lokasi kebun mengalami amblas, “Ada jalan yang menuju kebun juga ambruk sehingga menjadi lubang besar,” ujarnya.

Ia mengaku, meski terjadi tanah bergerak namun desa Doitia tidak terkena dampak yang parah  karena jaraknya agak jauh dari lokasi tersebut hanya mengalami banjir  setinggi lutut orang dewasa. “Setelah banjir kami membersihkan lupur yang masuk di dalam rumah setebal 30 cm,” bebernya.

Edward menambahkan, warga yang lahan kebun menjadi sasaran likuifasi sebanyak 50 kepala keluarga. ” sementara ini kami belum ke kebun, ada yang masih takut kejadian susulan,” katanya.

Sementara itu, wakil ketua DPRD Halut, Sahril Hi Rauf mengatakan, telah menerima informasi dari warga yang lahan kebunnya mengalami likuifasi. ” Mereka baru tiba dan menyampaikan peristiwa tersebut, karena kesulitan akses transportasi,” tuturnya.

Setelah menerima informasi tersebut, ia  akan turun ke lokasi bencana untuk melihat langsung dampak akibat dari liukifasi.

“Untuk kerugian belum diketahui pasti karena informasi Kades dan perangkat masih melakukan pendataan,” tuturnya.

Politisi dari partai Hanura ini memastikan akibat dari Likuifasi, warga Doitia mengalami kerugian harta benda berupa kebun pala, cengkeh, kelapa dan tanaman bulanan yang rusak dan sebagian juga sudah hilang tertelan tanah.

“Sekarang ini mereka sementara masuk masa panen cengkeh tapi pohon cengkeh sudah tertanam tanah,” tandasnya.

Fenomena likuifaksi baru pertama terjadi di desa Doitia, sehingga warga yang lahan kebun mengalami lekuifaksi tidak berani lagi ke kebun.” Ada warga yang mengaku trauma dan tidak mau lagi ke kebun, bahkan ada juga kecewa dan tidak berkebun lagi karena untuk menanam pohon pala kembali harus menunggu puluhan tahun,” terangnya. (AA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here