Morotai Makin Mencekam, Massa Bakar Gambar Bupati Benny Laos

3
950
Masa Unjuk Rasa Membakar Keranda Mayat

MOROTAI, PilarMalut.id – Kondisi Morotai rupanya semakin mencekam. Pasalnya, Unjuk Rasa masyarakat Kabupaten Pulau Morotai pada Senin (03/12/2018), berbeda dengan unjuk rasa sebelumnya. Gelombang Massa unjuk rasa makin membesar bahkan  unjuk rasa diwarnai dengan pembakaran kaos bergambar Bupati Morotai, Benny Laos dan pembakaran keranda mayat bertulisan “Banny Mati”.

Amatan dilapangan, selain pembakran gambar Bupati Morotai dan Keranda mayat, seluruh aktifitas di pasar Daruba lumpuh total lantaran para penjual ikan, pedagang kaki lima, ikut melakukan unjuk rasa. Selain itu, aksi pembakaran belasan ban mobil di depan kantor Bupati juga dilakukan massa unjuk rasa.

Bahkan, ratusan ibu-ibu pedangang memalang jalan masuk ke pasar serta melakukan long marc sambil berorasi di Ibu Kota Kabupaten, kemudian finis di kantor DPRD bergabung dengan massa aksi yang datang dari 5 kecamatan.

Unjuk rasa rakyat Morotai menuntut Benny Laos harus turun dari jabatan berlangsung selama 8 jam, mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00. Orasi demi orasi disampaikanpengunjuk rasa, mulai dari masyarakat biasa, dosen, aktivis anti korupsi, Mahasiswa, bahkan masyarakat perwakilan dari 5 kecamatan.

Salah satu perwakilan Selatan Barat yang berorasi di depan kantor DPRD mengatakan, hati Nurani Benny Laos telah mati sehingga harus diberikan ucapan terhadap kematiannya. “Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun, artinya kalau dalam Islam, kalau ucapan begitu berarti ada yang meninggal.” teriak utusan masyarakat sKecamatan Morotai Selatan Barat.

Bahkan dengan lantang, Benny Laos harus diberikan kartu merah.” Hari ini Bupati harus lepas jebatan dan angkat kaki dari Morotai, selamat Jalan Benny Laos.”kata orator tersebut sambil membuka kartu merah yang ada di saku belakang sembari mengangkatnya tinggi.

Sementara, keranda mayat yang di bungkus kain hitam bertuliskan “Benny Mati” itu akhirnya dibakar di kerumunan massa unjuk rasa. Pembakaran keranda sebagai simbol matinya keadilan dan kesejahteraan itu dilakukan para ibu-ibu .

Disaat bersamaan, pengunjuk rasa juga membakar kaos hitam dengan gambar Benny Laos. Pembakaran keranda dan kaos Benny Laos aparat kepolisian. Bahkan, banyak yang mendokumentasikan aksi pembakaran keranda dan kaos tersebut.

Massa unjuk rasa meminta, DPRD segera menjelaskan rencana pertemuan dengan Bupati Benny Laos. Hanya saja, pertemuan itu gagal dilakukan lantaran Benny takut datang. “sejak jam 9 pagi diruang rapat parpurna, menunggu sudara bupati, sampai saat ini beliau belum ada. Kami dapat surat dari Kapolres, bahwa Bupati belum bisa hadir karena masalah keamanan. DPRD akan melakukan pemanggilan kedua dan ketiga untuk dengar pendapat, DPRD tidak lagi lakukan hak interplasi tapi hak angket, interpelasi itu sama dengan memintai keterangan,jadi ini langsung ke hak angket penyelidikan,”kata Wakil ketua II DPRD M Rasmin Fabanyo.

Hal yang sama juga disampaikan ketua DPRD Fahri Hairuddin. Dihadapan massa ujuk rasa, Fahri mengatakan, sebelumnya DPRD telah melayangkan surat pemanggilan kepada Bupati. Hanya saja, pemanggilan pertama yang bersangkutan tidak hadir dengan alasan keamanan. “DPRD sudah layangan surat, Senin dipanggil, tertanda ketua DPRD, tapi surat Kapalres muncul agar menjadwalkan ulang karena pertimbangan keamanan. Yakin dan percaya, DPRD akan melaksanakan fungsinya,”katanya

Usai memberikan penjelasan, massa unjuk rasa terus menduduki kantor DPRD sembari berorasi. Hingga pada sore harinya, massa unjuk rasa akhirnya membubarkan diri. Namun, sebelum bubar massa unjuk rasa berjanji akan mengepung kantor Bupati dan DPRD sampai tuntutan Benny Laos angkat kaki dari Morotai bisa terwujud. (red).

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here