Mempelai Pria Bantah Soal Gagal Nikah Karena Menghilang Saat Ijab Kabul

0
656
Keluarga mempelai laki-laki, Rusdi Sadik

TOBELO, PilarMalut.id – Tentu publik Maluku Utara, masih teringat dengan peristiwa gagal nikah karena mempelai pria menghilang saat hendak proses ijab kabul yang dihembuskan Juraid Lidawa, keluarga mempelai wanitia Surfat Lidawa, pada 21 November 2018 lalu.

Kini keluarga mempelai pria membantah melalaui Rusdi Sadik, kelurga mempelai pria Abubakar Loku. Keluarga mempelai pria menggap pernyataan yang dihembuskan keluarga mempelai wanita di media merupakan pembohongan publik.

Rusdi Sadik mewakili keluarga mempelai pria dalam pernyataan tertulis yang diterima PilarMalut.id mengatakan, pada tanggal 15 Oktober 2018, orang tua mempelai pria mengantar biaya pernikahan (kerugian berupa uang tunai 25.000.000 dan bahan makanan lainnya kepada orang tua mempelai wanita, pada saat itu pula saling menyepakati waktu pelaksanaan ijab kabul kedua belah pihak.

“Dari keluarga perempuan yang hadir dalam kesepakatan itu diantaranya, Manaf karie, Hi Jafar, Salmin, Hi Ansar Ando dan Rusdi Lidawa ayah dari mempelai wanita. Sedangkan dari keluarga laki-laki dihadiri Hi. Ismail Loku, Rusdi Sadik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam pertemuan keluarga antara mempelai pria dan wanita tersebut disepakati proses ijab kabul pernikahan dilaksanakan pada hari Minggu 18 November 2018, pukul 09:00 wita, dengan ketentuan tidak boleh lewat dari jam 09:00 WIT. Kemudian selesai akad nikah langsung ramah tama pesta upacara adat. “Karena di Tolonuo tidak boleh melaksanakan pesta dimalam hari, untuk itu upacara di siang hari,” katanya.

Setelah disepkati waktu pelaksanaan nikah kata Rusdi, namun pada tanggal 14 November 2018 keluarga perempuan menelpon ingin merubah kesepakatan yaitu pelaksanaan pesta di malam hari (minggu malam), tetapi permintaan tersebut ditolak orang tua mempelai pria. Kemudian, pada tanggal 16 November 2018 ibu dari mempelai wanita menelpon kembali kepada Ibu dari mempelai pria menyebutkan, tetap pada kesepakatan awal yang penting keluarga pria bisa pulang ke galela pada sore hari. Kepakatan itu ibu dari mempelai pria merasa tidak ada masalah, penting tidak bermalam di Desa Tolonuo.

“Kesepakatan waktu pelaksanaan akad Nikah pukul 09:00 pagi, sehingga pada hari sabtu 17 November 2018 orang tua mempelai pria dan keluarga sudah datang ke Desa Tolonuo. Pada pukul 20:00 WIT, melalui utusan saudara Ikra Loku mengantar surat keterangan Nikah dari kepala Desa (N.1s/d N.5) serta rekomendasi dari KUA Kecamatan Galela Barat.

Namun utusan orang tua mempelai wanita Rusdi Lidawa merubah waktu pelaksanaan akad Nikah pada Minggu malam, itulah pihak keluarga wanita yang di utuskan ke saya Rusdi Sadik untuk menemui keluarga mempelai wanita untuk menyampaikan keberatan. Dari situ pihak keluarga wanita lewat saudara Rusdi Lidawa dan Sadikin Lidawa mereka berdua menerimah keberatan dari pihak mempelai pria dan di sepakati akad nikah di sesuaikan dengan kepakatan awal,” tuturnya.

Namun lanjut Rusdi, pada pukul 7:30 WIT ada acara keluarga yakni Hatamul Qur’an sehingga pengantin pria dan keluarga menunggu sampai acara selesai, akan tetapi setelah ijab kabul dan prosesi adat selesai keluarga pria pulang dan membawa mempelai wanita, tetapi keluarga wanita tidak memperbolehkan membawa mempelai wanita dengan alasan harus mengadakan prosesi adat dan alasan lain kedua mempelai wanita ada ikut tes CPNS jadi belum bisa dibawa.

“Pihak keluarga mempelai pria Hi. Ismail Loku tetap menolak permintaan dari keluarga mempelai wanita, karena merasa dibohongi dan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, apalagi undangan sudah di sebarkan ke keluarga untuk membantu kerja di rumah pria pada Senin. Terus kata Hi. Ismail, kedatangan saya dan keluarga ini untuk menikah bukan lagi meminang jadi setelah menikah kami harus membawa menantu apalagi acara selamatan direncanakan pada hari minggu malam. Saya di utus untuk menyampaikan hasil keberatan dari keluarga wanita dan kami bermohon agar acara pernikahan/ijab kabul harus dilaksanakan pada hari minggu pukul 09:00 pagi dan setelah acara ritual selesai pukul 15:00 atau pukul 16:00 pihak keluarga mempelai pria harus membawa menantu, pihak keluarga pria akan kembali ke galela dan soal pernikahan di tunda sampai pada bulan januari 2019 baru dilaksanakan,” tutur Rusdi.

Tetapi sambung Rusdi, mempelai wanita marah dan ingin membatalkan pernikahan dan kerugian mempelai wanita tidak bertanggung jawab, sehingga pihak keluarga pria bersikap pulang ke Galela pada Minggu, sebelum ijab kabul.

“Ke esokan hari pada Senin saya di utus untuk datang ke Tolonuo agar bertemu dengan orang tua mempelai wanita agar pernikahan bisa kembali dilaksanakan, tapi sebelum bertemu saya meminta bantu di orang-orang tua agar bisa dipertemukan dengan pihak keluarga wanita dengan membawa dua tawaran yakni membayar uang kehormatan/harga diri sesuai dengan ketetapan hukum adat. Membayar biaya pernikahan (Bahan makanan) sesuai dengan kesepakatan awal,” imbuhnya.

Baca JugaMenghilang Saat Ijab Kabul, Mempelai Pria Didenda Rp 15 Miliar

Akan tetapi kata Rusdi, kedatangannya tidak membuhkan hasil, bahkan melalui dua orang staf Desa, dirinya diperintahkan untuk pulang. “Dari situlah saya menyimpulkan bahwa orang tua mempelai wanita mencampur adukan antara Hukum Positif dan Hukum Adat. Kenapa hanya persoalan acara pesta sehingga pernikahan pun gagal,” cetusnya.

Ia menegaskan, mempelai Abubakar Loku tidak melarikan diri melainkan kembali pulang ke rumah, hal ini terbukti seluruh kebutuhan pernikahan sudah diselesaikan ditaksiran sudah Rp 94.000.000.

“Jadi kalau denda sebesar 15 miliar dari sudut pandang mana saudara Juraid Lidawa menyatakan seperti itu. Sekiranya saudara Juraid Lidawa kurang memahami proses ini dan harus mendalami dulu. Kemudian dengan alasan ikut Tes CPNS, maka saya yakin dan percaya bahwa hari Senin tidak bisa diantar ke rumah mempelai pria sebab adanya tes CPNS jam 14:00 WIT, sehingga mempelai wanita Sulfat Lidawa kembali ke Tolonuo pukul 18:00 WIT, berarti otomatis tidak bisa diantar ke Galela di rumah mempelai Pria, sedang acara resepsi di rumah mempelai pria dilaksanakan pada senin malam, hal ini lebih buruk lagi apabila pada acara resepsi dan mempelai wanita tidak ada di kursi pengantin,” tutupnya. (AA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here