Mantan Buruh Pengagum Bung Hatta

0
131
Jasri Usman

Suatu sore, bersama sejumlah kawan menikmati kopi, seorang lelaki berwajah teduh dengan senyum tulus mengembang dan berpenampilan sederhana yang baru datang, berdiri di depan pintu. Dalam hati bertanya, siapakah gerangan? Benarkah dia yang kerap dibincangkan karena kesederhanaan dan ketulusannya? Ataukah jangan-jangan dia sahabat teman saya yang ingin menghangatkan tubuh dengan kopi bersma kami? Ataukah staf jasa pengiriman yang mengantarkan buku pesananan saya dari Makassar, Sulawesi Selatan?

Sejurus kemudian, seorang kawan mengajak berpindah tempat. Lelaki itu sudah ada di sana, sendiri. Saat beberapa kawan menyebut namanya, menyapanya “Pak Ketua”, “Pak Wakil”, barulah keraguan saya terjawab. Owh…ternyata lelaki tadi Jasri Usman  yang baru pertama kali saya bersua langsung di sore itu. Dalam suasana perbincangan yang santai dan cair diselingi humor, saya merasa seperti sudah lama akrab dengannya, rasa kikuk pun melayang. Azan Magrib bersahutan di Masjid, Jasri berpamitan, menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Seusai shalat Isya, kami bertemu seoarng CEO media. Tak lama berbincang, Jasri memenuhi janjinya dengan orang, dan berjanji akan kembali. Benar adanya, sudah pukul 1.00 dinihari, Jasri kembali. “Kalau dia bilang kembali ke sini, ia akan kembal,” kata sang CEO itu, menunjukkan komitmen Jasri.

Jasri adalah calon Wakil Wali Kota Ternate berpasangan dengan mantan Sekda Kota Ternate Tauhid Soleman, calon Wali Kota, yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Nasional Demokrat (NasDem) pada Pilwako tahun ini.

Di antara tokoh nasional, Jasri mengagumi dua orang. “Saya terinspirasi juga dengan semangat juang Tan Malaka, dan yang paling saya kagumi dan idolakan itu Bung Hatta, yang terkenal dengan pemikiran ekonomi kerakyatan/koperasi, kesederhanaan, dan tidak pernah mengambil hak orang lain,”ungkap Jasri.

Banyak orang menyebut Jasri adalah pribadi yang tergolong unik, langka. Sebagai Ketua Partai PKB Wilayah Maluku Utara, ia tak pernah menampakkan, apalagi membanggakan jabatannya itu di hadapan siapapun. Sebab, dalam kesadarannya, jabatan adalah amanah yang tak hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia, melainkan juga kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, di kemudian hari.

Tak heran, di luar kegiatan formal, Jasri biasa saja penampilannya, apa adanya, sehingga terkadang orang menyangka dia orang biasa yang tak bernilai. Begitupun pergaulannya, tak membedakan latar belakang agama, etnis, suku, budaya, sosial-ekonomi/pekerjaan, dan organisasi yang diakui negara. Sebab, bagi Jasri, sebagaimana diajarkan di dalam ajaran agama yang diyakininya, semua manusia sama di hadapan Tuhan. “ Allah hanya menilai amal dan perbuatan manusia,” tandas Jasri.

Pandangannya tentang manusia itulah, membuat Jasri tidak sombong, tidak tanam wibawa, tidak bermuka masam, merasa bahagia jika telah membahagiakan orang lain, komitmen, tidak mengambil hak orang lain, tidak merendahkan sesama manusia, menegur kekeliruan tanpa menyakiti, santun betutur kata, bersenda gurau pada tempatnya, dan seterusnya.

Sederet karakter yang demikian kukuh tertanam dalam dirinya selama ini, tak terlepas dari hati dan pikirannya yang bening dan tulus. Karakter ini, selain berlandaskan pada ajaran agama, juga lembaran hidup di masa kecilnya. Ayahnya, dipercaya masyarakat dalam waktu lama sebagai imam Masjid, dan sang Ibu, selalu mengingatkan agar jangan pernah mengambil hak orang lain. “Pesan orangtua saya ini saya pegang sampai kini, dan seterusnya,”ungkapnya.

Karakter seorang Jasri mengingatkan saya petuah para ulama termasuk Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) yang menyatakan bahwa milai terpenting seorang manusia ialah akhlak, perilaku, dan pergaulannya dengan sesama manusia. Sebab, banyak orang yang rajin shalat, namun akhlak, perilaku, dan pergaulannya tak selaras dengan makna shalat itu sendiri.

Selain itu, Jasri adalah seorang pekerja keras yang berharap keridhaan Tuhan. Sejak kecil, dia menjadi pekerja kelapa kopra hingga menjadi buruh di perusahaan minyak goreng Bimoli, Toboko, dan buruh Pelabuhan Feri, Bastiong Ternate. Semua itu dilakukan demi memandirikan dirinya agar tak bergantung hidup dari keringat orang lain, dan tetap memegang teguh petuah ibunya agar tidak mengambil hak orang lain. “Saya pikul kopra yang beratnya sampai 100, dan selalu pegangang amanah ibu saya,” tutur Jasri.

Ajaran Islam menekankan setiap manusia bekerja keras dan jujur, sebagaimana dikemukakan juga oleh para ulama dan cendekiawan Muslim besar dunia di antaranya Ibn Khaldun, Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabatabai, Seyyed Hussein Nasr, Abdurrahman Wahid, Yusuf Qardhawi, Nurcholis Madjid, Ahmad Syafi’i Maarif, Muhammad Imaduddin Abdulrahman, dan Haidar Bagir, dalam karya-karya mereka.

Hal-hal tersebut oleh Danah Zohar, Ian Marshal, dan Taufik Pasiak, disebut kecerdasan spiritual, dan sejumlah studi menunjukkan bahwa kecerdasan ini menjadi kunci kesuksesan para pemimpin. (mkm).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here