Foto: Kenangan, dan Makna Hidup

0
1566

Oleh
Fahmi Sahabu
(Pegiat Pilas dan Mahasiswa Antropologi UNKHAIR)

Dunia kita huni saat ini sudah mengalami perkembangan kebudayaan sangat pesat. Olehnya itu, perlu merefleksi kembali perubahan kebudayaan yang kita alami sebagai pengalaman pribadi. Pengalaman hidup seseorang akan terekam membekas sebagai kenangan dan terbatas pada ingatan. Sebab, manusia adalah makhluk berbudaya, dalam artian pencipta sekaligus pemerima suatu nilai kebaruan.

Pada jaman lampau dimana berbagai peristiwa hanya direkam lewat ingatan semata. Misalkan pengalaman hidup seseorang tersimpan rapat dalam ingatan lalu, kemudian dituturkan secara lisan pada orang lain disaat terjadi kontak pertukaran pengalaman. Pada era kekinian, segela kejadian, pengalaman terekam dan tersimpan secara visual sebagai bukti kenangan suatu kelak.

Foto, salah satunya alat untuk refleksi memori yang tersembunyi dari arus globa. Bagi sebagian orang, foto hanya dijadikan sebagai sarana membanggakan diri tanpa direnungi. Tanpa sadar foto yang diambil itu menjadi kenangan untuk merefleksi kembali memori yang tersimpan dibenaknya. Oleh karena itu, foto harus dijadikan dokumen pengetahuan bagi semua orang untuk merefleksi kehidupan, bukan sekadar barang koleksi yang dibiarkan usang lalu dibuang.

Dalam kajian fotografi, kita akan berhadapan dengan dua dunia yang menjadi basis analisis visualisasi, yaitu objektifitas dan subjektifitas. Sebab objektifitas dan subjektifitas ini adalah dunia refleksi untuk melahirkan kembali realitas visual. Objektifitas yang dimaksud dengan kajian fotografi adalah dunia materi (alam), sedangkan subjektifitas sendiri adalah dunia orang-orang yang beraktifitas. Menurut Seno Gumira Ajidarma (2007:1), teknologi fotografi memang terlahir untuk memburu objektifitas, karena kemampuannya untuk menggambarkan kembali realitas visual dengan tingkat presisi yang tinggi. Realitas fotografi dalam dua dunia tersebut ada dan mengada. Ada dan mengada yang dimaksud Seno adalah ada di dalam foto itu sendiri.

Ada dalam foto

Kata “ada terbaca dan terdengar sepeleh, namun telah lama menjadi bahan perdebatan dunia filsafat sejak zaman Yunani. Sebagai fungsi dan makna kata, ada” dipakai untuk menunjukkan arah, tempat, jawaban dan pertanyaan di mana subjek itu berada. Dalam fotografi juga kata “ada” ini selalu dipakai untuk bahan perbincangan antara subjek dan objek yang menjadi bukti di mana subjek itu berada dalam dunia.

Pertanyaannya, bagaimana kita membuktikan subjek itu benar-benar ada dalam foto? Pertanyaan tersebut bisa terjawab dengan mengambil contoh konkritnya di Kota Ternate. Keberadaan sejumlah taman, Landmark dan benteng menjadi spot-spot yang hampir tak pernah sepi dari mereka yang menaruh skill untuk mengabadikan gambar (foto). Mereka berswafoto dan ada yang bergantian saling mengabadikan foto dengan alat kamera dan handpone, sama-sama adalah subjek yang berada pada satu tempat. Hasil dari foto itu adalah bukti dari kebenaran bahwa, kata ada sebagai subjek benar-benar berada dalam foto sebagaimana yang disebut P.M. Laksono sebagai wajah orang-orang yang terpotret.

Apabila contoh di atas dikaji melalui metode fotografi dalam membuktikan kebenaran akan keber-ada-an, maka yang paling penting adalah “tempat” di mana subjek itu mengalami sendiri di suatu tempat. Ada yang suka berfoto dengan tempat-tempat peninggalan, ada yang berfoto dengan senja, ada juga di tempat-tempat warung kopi dan tempat wisata lainnya.

Gaya dan posisi pengambilan foto tak lepas dari aspek menjadi penting untuk ditelaah, sebagaimana dijelaskan dalam banyak literatur bahwa dunia fotografi perlu dikaji dalam metode etnografi karena, tak bisa dilepas dari hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan dunia. Hal itu dilakukan agar foto tersebut dipercaya oleh orang-orang yang memandang foto itu. Dalam konteks itu, senada dengan apa yang dijelaskan Heideger, bahwa di dalam dunia manusia berjumpa dengan benda-benda dan dengan sesama manusia. Kita sama-sama sibuk dalam dunia, Da-sein ditentukan oleh Mitda-sein, berada bersama-sama. Manusia menyadari hubunganya dengan sesama dan dengan benda-benda, tetapi benda-benda tidak dapat melakukan hal yang sama seperti manusia. (lihat Seno Gumira Ajidarma, 2005-2007:17).

Penjelasan antara manusia dengan tempat ini ialah penjelasan yang terpercaya, misalnya P.M. Laksono, menjelaskan foto Mohamad Iqbal mengenai peristiwa tsunami yang dilanda masyarakat Aceh. Walaupun Laksono sendiri secara langsung tidak memotret masyarakat Aceh. Akan tetapi, penjelasan tersebut sangat detail dan kalau dilihat dari penjelasannya, seakan-akan Laksono sendiri yang memotret masyarakat Aceh. Misalnya foto Ibu Hj. Abasiah Ahmad Dahlan dan Ibu Tiajar dari kampung Kuta Tua, menurut Laksono, kedua foto ini ada semacam perbedaan kelas. (Laksono , Dalam esei-esei Antropologi 2006:234).

Penjelasan mengenai realitas gaya berswafoto dapat kita amati di kota Ternate, di mana foto bersama keluarga, teman maupun seorang diri dengan perbedaan gaya dan tempat. Ada yang di taman-taman kota, artefak peninggalan kolonial, pantai, di hotel-hotel, pasar-pasar modern, kedai kopi, restoran-restoran, rumah makan dan tempat lainnya. Pemilihan tempat berfoto, gaya dan penampilan tentu pemahaman subjektif kita dapat menilai kategori kelas masyarakat baik secara prestise, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Foto-foto tersebut akan dikoleksi dan disimpan lewat sosial media sebagai dokumen yang pada suatu waktu akan dilihat, diingat dan dikenang sebagai bukti kenangan hidup.

Melihat dan mengingat

Intinya, foto adalah kenangan yang akan terjawab oleh subjek, walaupun berapa lamanya kenangan itu (pengalaman subjek) tiba saatnya kenangan itu akan terjawab dengan sendirinya. Kenapa! Karena dengan kekuatan citra visual yang dipertontonkan melalui media social itu sendiri. Pengalaman subjek merupakan pengalaman mutlak yang melekat pada diri masing-masing individu. Karena setiap subjek yang memandang itulah tugas dia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah ia alami. Saat ini, banyak foto yang diunggah melalui media sosial tidak melulu soal style, tetapi bagian dari pameran foto yang dipublikasikan untuk masyarakat. Dan foto-foto yang diunggah itu akan menjadi wacana dalam sejarah bagi subjek yang memandang foto tersebut. Tanpa sadar manusia akan luput dengan foto-foto yang dianggap itu tak pantas atau tak berguna. Namun, seketika foto itu disimpan oleh subjek yang lain, kemudian dipamerkan pada momen tertentu dan diperbincangkan kembali dengan apa yang dialami sendiri.

Foto-foto yang dipamerkan melalui media social Facebook, WhatsApp, Instagram maupun twitter oleh subjek telah menjadi pengingat memori yang tersimpan pada diri sendiri melalui citra visual. Tanpa sadar ini bagian dari dokumen tersendiri yang melekat pada masing-masing individu. Pameran ini membantu kita menjelaskan apa yang kita alami dengan lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, foto-foto yang dipamerkan tadi mempunyai makna dan ciri khas tersendiri. Karena sesuatu yang bermakna itu di tentukan dunianya seseorang di mana ia sendiri merasakannya dan diabadikan lewat foto. Makna sebuah foto tergantung pada pengalaman merasa subjek baik dalam ruang maupun waktu di mana foto tersebut diadakan. Agar ia mengingat apa yang pernah ia alami dengan lingkungan sekitarnya, yakni jejak, rangkaian perjalanan hidup kita akan dijelaskan lewat dokumen (foto) sebagai makna hidup. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here