Dewan Pakar Sibualamo : Pembentukan Dewan Kebudayaan tidak Urgensi

0
47
Anggota Dewan Pakar Badan Pengurus Sibualamo Provinsi Malut, Kasman Hi Ahmad

TERNATE, pilarmalut.id – Rencana kongres pembentuka Dewan Kebudayaan rupanya terus mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan tidak hanya pihak Kesultanan Ternate, Keluarga Malamao Ternate (KARAMAT), melainkan juga sorotan dari Dewan Pakar Badan Pengurus Sibualamo Provinsi Maluku Utara (Malut).

Dewan Pakar BP Sibualamo Malut dengan tegas menilai, kongres pembentukan Dewan Kebudayaan Malut sangat tidak urgensi.

“Saya melihat pembentukan Dewan Kebudayaan tidak memiliki urgensi yang kuat berkaitan dengan pengembangan budaya,” kata anggota Dewan Pakar BP Sibualamo Malut, Kasman Hi Ahmad, saat dikonfirmasi wartawan di Pendopo Kedaton Ternate, Minggu (14/02/2021).

Menurutnya, yang perlu dibangun saat ini kaloborasi lembaga kebudayaan yang sudah ada diantaranya kesultanan maupun dengan penguyuban yang mengkhususkan diri pada pelestarian budaya, karena Dewan Kebudayaan dibentuk seakan-akan mengsubkoordinasi lembaga-lembaga kebudayaan yang sudah terbentuk.

“Saya lebih melihat bahwa fungsi negara harus mengakomudir lembaga-lembaga budaya yang sudah dibentuk negara misalkan dinas pendidikan dan kebudayaan, sehingga pola berfikir lebih strategis bagaimana kebudayaan itu bisa dilestarikan melalui lembaga-lembaga pendidikan yang sudah ada,” tuturnya.

Selain pelestarian budaya melalui lembaga pendidikan, lanjut Kasman, lembaga-lembaga kebudayaan yang sudah terbentuk juga berkewajiban memberikan masukan pelestarian dan pengembangan kebudayaan.

“Pemerhati kebudayaan atau para pakar kebudayaan siapapun itu, harus memberi pikiran pengembangan kebudayaan tidak harus membentuk lembaga baru,” tegasnya.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara ini menambahkan, sebelumnya di Maluku Utara pernah di bentuk dewan kebudayaan namun tidak efektif, sehingga jangan lagi dibentuk karena masih banyak hal di daerah ini yang harus di pikirkan secara bersama untuk menstrategikan lembaga-lembaga yang sudah terbentuk untuk pengembangan kebudayaan.

“Ini harus di diskusikan sehingga tidak secara meteral berhadapan-hadapan dengan insiator pembentukan dewan kebudayaan dengan institusi kebudaayan yang sudah ada. Tapi mari kita diskusi untuk mengkeroyok isu-isu kebudayaan dengan penguatan kelembagaan kebudayaan serta nilai-nilai kebudayaan di daerah ini, dengan tidak harus berfikir membentuk dewan kebudayaan yang baru, tapi kita kuatkan lembaga yang sudah ada baik itu empat kesultanan, maupun lembaga penguyuban yang mengkhususkan diri dengan tugas melestarikan dan pengembagan kebudayaan yang ada,” tutupnya. (div).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here